Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Setiap hal yang mengalami pergerakan secara rutin akan membentuk sebuah pola tertentu. Seorang manusia makan tiga kali sehari, olahraga setiap pagi, mandi dua kali sehari, dan sebagainya. Hal tersebut membentuk pola hidupnya. Kita bisa mengidentifikasi pola-pola kehidupan seseorang dari beberapa hal yang ia lakukan secara rutin meskipun sekali dua kali terjadi penyimpangan.

Begitu pula harga saham yang terus bergerak tiap detiknya. Jika pada halaman sebelumnya “Fundamental of Candlestick” sempat menyinggung mengenai time frame charting, tentu akan dapat dilihat sebuah pola pergerakan harga saham. Dengan memahami jenis serta karakteristik pola pergerakan saham dapat membantu kita dalam memprediksi kemanakah harga saham bergerak.

Secara umum ada tiga pola pergerakan harga yaitu sideways, uptrend, dan downtrend. Pola sideways merupakan pola pergerakan harga dimana pada suatu periode tertentu cenderung stagnan atau hanya bergerak naik – turun dengan range yang kecil. Pola uptrend merupakan pola pergerakan harga dimana pada suatu periode tertentu cenderung mengalami kenaikan. Sebaliknya, pola downtrend merupakan pola pergerakan harga dimana pada suatu periode tertentu cenderung mengalami penurunan. Untuk lebih jelas dalam memahami pola pergerakan harga saham mari kita perhatikan pergerakan harga saham emiten WSKT pada periode November 2017 hingga April 2018 berikut,

Ilustrasi pola pergerakan harga

 

Terdapat juga periode koreksi harga. Apalagi itu koreksi harga? Memang dalam pergerakan harga uptrend atau downtrend cenderung naik atau turun. Namun dalam perjalanannya jarang sekali ada yang selalu naik setiap harinya dalam masa yang panjang. Koreksi harga umumnya disebabkan adanya aksi profit taking. Mari kita contohkan ada sekelompok investor A membeli saham YLTP terlebih dahulu, kemudian setelah harganya naik beberapa saat, investor A sudah merasa cukup dengan capital gain yang didapatkan maka investor A menjual sahamnya dalam jumlah yang besar. Tentunya besar kemungkinan harga akan turun pada periode ini. Selanjutnya investor B melihat peluang naiknya harga saham YLTP maka investor B melakukan aksi beli dan harga saham kembali naik.

Ilustrasi koreksi harga dalam bentuk candlestick

 

Masih dalam ilustrasi yang sama pada emiten WSKT pada periode Desember 2017-Mei 2018. Lingkaran biru menunjukkan periode koreksi harga. Pada periode Desember 2017-Februari 2018 pada saat pola uptrend terjadi tiga kali terdapat koreksi harga. Sedangkan pada periode Februari-Mei 2018 terjadi pola downtrend dengan empat kali koreksi harga. Mungkin akan lebih mudah melihatnya dengan menggunakan line chart daripada candlestick sebagaimana seperti gambar berikut.

Ilustrasi koreksi harga dalam bentuk linechart

 

Salah satu hal yang berbahaya dalam trading adalah ketika kita salah mengartikan naiknya harga pada pola downtrend adalah pola pembalikan harga (dari downtrend menjadi uptrend) padahal sesungguhnya itu adalah koreksi harga. Ketika terjadi koreksi harga pada pola downtrend kita membeli saat harga naik kemudian beberapa hari kemudian harga turun dan kita terpaksa cut loss atau membiarkan portofolio kita “nyangkut”.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin