Overview Global Market: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Hantui Pasar Modal?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Pertumbuhan global diproyeksikan berada pada level -4,9% pada tahun 2020. Proyeksi tersebut lebih buruk dari proyeksi sebelumnya pada bulan April 2020, yaitu -1,9% pada tahun 2020. Turunnya pertumbuhan global didominasi oleh turunnya pertumbuhan konsumsi karena adanya penurunan permintaan (demand shock) saat social distancing dan juga adanya peningkatan dana cadangan untuk antisipasi krisis. Selain itu, investasi diperkirakan akan berkurang karena beberapa perusahaan menunda pengeluaran modal ditengah ketidakpastian yang tinggi. Berdasarkan gambar dibawah, aktivitas global terkait penurunan GDP diperkirakan terjadi pada kuartal ke-2 2020 dan mulai pulih setelahnya. Pada 2021, pertumbuhan global diproyeksikan menguat hingga 5,4%, dimana konsumsi masyarakat dunia dan investasi diperkirakan akan menguat secara bertahap tahun depan.

Proyeksi tersebut diiringi oleh ketidakpastian yang dapat meluas tergantung pada kedalaman kontraksi yang terjadi pada kuartal 2 2020. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan global antara lain: durasi dari pandemi dan kebutuhan lockdown; banyaknya penutupan perusahaan dan naiknya tingkat pengangguran sehingga aktivitas akan sulit bangkit ketika pandemi memudar; dampak perubahan untuk aktivitas perusahaan terkait praktek sosial distancing selama pandemi sehingga menimbulkan biaya bisnis; rekonfigurasi ulang global supply chain yang mempengaruhi produktivitas perusahaan.

Penurunan proyeksi pertumbuhan konsumsi juga terjadi pada emerging market dan negara berkembang, dimana penurunan tersebut terjadi karena lemahnya permintaan pasar eksternal (ekspor-impor). Secara keseluruhan pertumbuhan grup emerging market dan negara berkembang diperkirakan -3,0% pada 2020. Untuk pertama kalinya IMF memproyeksikan semua wilayah mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif pada tahun 2020. Namun terdapat perbedaan substansial pada masing-masing ekonomi yang mencerminkan evolusi pandemi dan efektivitas strategi menangani pandemi; variasi dalam struktur ekonomi; mengandalkan aliran keuangan eksternal.

Pada 2021 tingkat pertumbuhan ekonomi untuk emerging market dan negara berkembang diproyeksikan menguat menjadi 5,9%, yang mana sebagian besar dipengaruhi oleh dampak rebound China yaitu 8,2%. Saat ini, di China pemulihan dari kontraksi tajam sedang berlangsung dan didukung oleh stimulus kebijakan. Oleh karena itu, pada 2020 pertumbuhan ekonomi China diproyeksikan berada pada level 1,0%. Perdagangan global juga diproyeksikan akan mengalami kontraksi yang dalam tahun ini, yaitu sekitar 11,9%. Hal tersebut dicerminkan oleh masih lemahnya permintaan barang dan jasa selama tahun 2020. Demikian juga untuk proyeksi inflasi, pada 2020 diperkirakan inflasi turun. Hal tersebut mencerminkan kombinasi aktivitas produksi yang lemah dan harga komoditas yang rendah. Inflasi baru diperkirakan akan meningkat secara bertahap pada tahun 2020.

Pengembangan vaksin yang aman dan efektif akan menjadi sentimen positif dan meningkatkan hasil pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021. Selain itu, perubahan dalam sistem produksi, distribusi, dan sistem pembayaran selama pandemi juga dapat memacu peningkatan produktivitas.

Sementara itu sejak Indonesia menerapkan kebijakan PSBB pada beberapa wilayah, pemerintah mulai mengantisipasi dampak pelemahan ekonomi Indonesia dengan cara merilis 2 paket stimulus, dimana stimulus pertama fokus pada sektor pariwisata dan stimulus kedua fokus pada aktivitas untuk menopang industri. Namun karena stimulus pertama dinilai kurang efektif, pemerintah mengambil langkah untuk merilis stimulus ketiga dengan jumlah dana dan penerima manfaat yang lebih besar. Total dana yang disiapkan pemerintah untuk membantu percepatan ekonomi Indonesia adalah sekitar 405,1 Trilliun rupiah. Stimulus fiskal yang diambil pemerintah memang sangat penting untuk mengatasi dampak ekonomi baik untuk jangka pendek maupun panjang. Saat ini, pemerintah telah mengeluarkan dua paket stimulus senilai 3,8 trilliun untuk sektor pariwisata dan 22,92 trilliun untuk sektor manufaktur. Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) mencakup stimulus untuk bisnis ultra-mikro dan kebijakan non-fiskal. Dalam paket stimulus ini, salah satu strateginya adalah mengurangi tarif pajak penghasilan badan menjadi 22% pada 2020-2021 dan 20% pada tahun 2022.

Tingginya ketidakpastian ekonomi tersebut juga berdampak volatilnya pasar modal Indonesia. Hal tersebut membuat investor asing yang telah melakukan investasi di Indonesia melakukan aksi jual yang cukup massive selama masa pandemi. Berdasarkan data capital inflow dibawah, modal telah mengalir dengan cepat selama beberapa bulan terakhir. Sejak Februari terjadi penurunan modal asing sebesar hampir 70%, yaitu dari USD 16,7 miliar menjadi USD 5 miliar. Keluarnya modal asing tersebut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar. Aliran modal secara massive tersebut akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan pasokan uang karena adanya penurunan likuiditas. Turunnya likuiditas tersebut harus dapat diatasi karena dalam sektor perbankan, likuiditas bank adalah faktor sentral dalam siklus sirkulasi uang untuk penyaluran pinjaman. Selain itu, adanya pandemi juga meningkatkan potensi peningkatan NPL perbankan.

Sementara itu, untuk kondisi IHSG saat ini berada dilevel sekitar level psikologis 5.000. Bulan Juli-Agustus 2020 ini merupakan periode perilisan laporan keuangan kuartal 2, yang mana pada kuartal 2 ini hampir seluruh perusahaan diproyeksikan mencatatkan penurunan laba akibat pernurunan kinerja akibat dampak pandemi dan kebijakan PSBB yang telah dilaksanakan 3 bulan sebelumnya.  Penurunan kinerja tersebut dinilai akan berdampak pada tertekannya level harga IHSG. Dengan demikian prediksi arah pergerakan harga IHSG akan tertekan dibawah level 5.000 pada periode kuartal 2-2020 ini.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin