Overview Global Market: Kemana Arah Pasar Saham di Tengah Pandemi Covid19?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Kondisi pandemi yang melanda global sejak Januari 2020 lalu membuat perekonomian dari hampir semua negara mengalami perlambatan. Hal tersebut terlihat pada penurunan GDP pada kuartal 1 2020, baik di negara Amerika maupun Indonesia. GDP Amerika mengalami penurunan yang cukup signifikan, yakni – 5% dimana berdasarkan data dari kuartal nilai GDP Amerika tidak pernah mengalami penurunan. Semakin memanasnya hubungan China-Amerika dan adanya isu rasisme di Amerika pada akhir bulan Mei lalu, menyebabkan kondisi di Amerika yang tidak kondusif. Beberapa analis pemeringkat rating juga memprediksi nilai GDP Amerika pada kuartal 2 akan mengalami menurunan hingga – 21% . Namun dengan adanya kondisi tersebut, kondisi pasar modal Amerika maupun IHSG justru mengalami rebound setelah terjadinya penurunan yang cukup signifikan sejak awal terjadinya pandemi virus ini. Pertanyaannya adalah apakah saat ini rebound (pemulihan ekonomi) di pasar saham sudah benar-benar terjadi?

GDP Indonesia
GDP Amerika Serikat

Perlu diketahui bahwa saat ini krisis yang terjadi dinilai lebih buruk dari krisis yang terjadi pada tahun 2008 dan 1998. Pada krisis 2008 impact-nya di mulai dari US, dimana IHSG mengalami penurunan hingga – 60% selama 1 tahun. Saat itu, krisis yang terjadi tidak terlalu dirasakan bagi kebanyakan orang karena daya beli masyarakat masih cukup tinggi dan tidak adanya PHK besar-besaran. Sedangkan pada krisis 1998 banyak terjadi bankruptcy pada perusahaan besar karena meningkatnya nilai hutang. Pada saat itu IHSG juga mengalami penurunan hingga – 50% dari 730 ke 260. Hal menarik yang perlu diperhatikan pada saat penurunan IHSG di masa krisis adalah penurunan yang terjadi tidak secara langsung, melainkan ada fake rebound. Pada 1998, IHSG turun dari 730 ke 340 kemudian sempat naik ke 540, namun kembali turun lebih dalam ke 260.

Berdasarkan data GDP tersebut, kondisi ekonomi AS adalah kondisi terburuk sejak great depression 1928. Sedangkan di Indonesia nilai pertumbuhan ekonominya merupakan yang terlemah sejak 2001. Jika kita lihat kondisi perekonomian saat ini banyak perusahaan yang melakukan efisiensi (baik dengan melakukan PHK, pemotongan gaji, ataupun penurunan kualitas). Hal tersebut tentunya akan menurunkan daya beli masyarakat dan melemahkan ekonomi. Jadi dari gambaran kondisi tersebut, saat ini kenaikan yang terjadi dinilai cukup beresiko untuk melakukan investasi total di pasar saham. Trading jangka pendek mungkin adalah salah satu opsi untuk masuk ke pasar modal, meskipun perlu untuk tetap waspada. Satu-satunya hal yang dapat membantu meningkatkan pemulihan ekonomi adalah kebijakan pemerintah.

Salah satu stimulus pemerintah yang dinilai mampu untuk meningkatkan pemulihan ekonomi adalah kebijakan subsidi bunga untuk para debitur perbankan yang bertujuan untuk mendukung UMKM. Selain itu adanya kebijakan baru tentang Dana Tapera, yaitu program yang membantu pekerja memiliki rumah, juga dinilai mampu menggerakkan roda perekonomian dari berbagai macam industri. Total dana yang akan disisihkan para pekerja untuk alokasi pembangunan rumah adalah sebesar 3% setiap bulannya. Meskipun masih belum sepenuhnya didukung oleh semua pihak pekerja dan perusahaan, kebijakan ini dinilai mampu menjadi salah satu penggerak roda perekonomian nantinya.

Data Perubahan Harga Sektoral Saham IHSG

Pada minggu pertama Juni 2020, indeks saham disejumlah negara kompak bergerak menguat. IHSG menguat 4% diminggu pertama Juni 2020 ini. IHSG bahkan sempat menembus level psikologis 5000. Penguatan IHSG ini diikuti oleh menguatnya rupiah terhadap dollar AS. Dalam 1 minggu ini, rupiah menguat 4,7% menjadi 13.920. Bursa di Eropa dan Amerika juga bergerak menguat meskipun terjadi kerusuhan karena isu rasisme. Indeks saham di berbagai belahan dunia menguat dikarenakan risk appetite pelaku pasar naik lagi. Selain itu kenaikan IHSG dalam seminggu terakhir juga dipengaruhi oleh beberapa katalis, pertama yaitu karena adanya euforia dalam menyambut pembukaan kembali perekonomian. Kedua, rendahnya inflasi pada bulan Mei 2020 juga mendukung kenaikan IHSG. Berdasarkan data BPS pada bulan Mei lalu tingkat inflasi yang terjadi sebesar 0,07%. Ketiga, masuknya dana asing juga ikut mengangkat IHSG pada minggu lalu.

Penguatan IHSG tersebut didukung oleh beberapa sektor dasar. Berdasarkan data idx pada tabel diatas, dapat dilihat dari 10 sektor ada 8 sektor yang mengalami penguatan diantaranya infrastruktur, misc-ind, trade, property, mining, manufacture, finance, dan agriculture. Kenaikan tertinggi ada pada sektor misc-ind, properti, trade, dan finance yaitu sebesar 4%; 1,64%; 1,1%; dan 0,83%. Banyak analis ekonomi yang memprediksi, bahkan pemerintah telah memastikan, bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 ini akan negatif. Hal tersebut dikarenakan turunnya konsumsi rumah tangga secara drastis. Pemerintah juga memprediksi pertumbuhan ekonomi di akhir 2020 sebesar 2,3% atau posisi terburuk -0,4%. Oleh karena itu, sebagai investor maupun trader kita perlu waspada terhadap arus jual yang akan terjadi pada kuartal II 2020.

happy investing.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin